Jakarta – Abu Bakar Ba’asyir dikait-kaitkan dengan jaringan teroris Medan yang baru saja digulung Densus 88. Bahkan disebut-sebut turut mendanai pelatihan militer. Ba’asyir hanya tertawa mendengar tudingan tersebut.

“Ustadz Ba’asyir sudah sering disebut begitu, jadi ya tertawa saja, senyum-senyum saja mendengarnya. Dibilang teroris juga senyum saja,” ujar salah satu kuasa hukum Ba’asyir, Ahmad Kholied, kepada detikcom, Selasa (21/9/2010).

Kholied menuturkan, Ba’asyir merupakan pendiri dan amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT). Namun organisasi tersebut tidak melakukan kegiatan kemiliteran terkait terorisme.“Itu organisasi Islam biasa untuk berdakwah. Nanti semua akan dijelaskan Ustadz di pengadilan. Kalau sekarang mau bantah-bantah juga percuma, karena semua bisa diatur,” tutur Kholied.

Menurutnya, JAT belum lama terbentuk, baru sekitar setahun atau dua tahun. Setelah mundur dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Ba’asyir membentuk organisasi tersebut. “Itu dakwah pengajian, yang rutin di daerah-daerah. Alamatnya di Ngruki,” sambung Kholied.

Dia menambahkan, dana JAT diperoleh dari hasil saweran saat pengajian berlangsung. “JAT murni dakwah, tidak ada kegiatan militer. Anggotanya juga seupil. Lagipula mau beli senjata dari mana. Ustadz Abu juga tidak bisa pakai senjata,” lanjut Kholied.

Dituturkan dia, ketika Pondok Pesantren Ngruki disebut sebagai sarang teroris ternyata tidak terbukti. Sebab di sana memang tidak ada latihan perang.

“Polisi yang berlagak jadi santri banyak, dibiarkan saja biar melek kalau Ngruki itu bukan sarang teroris,” tambahnya.

Pada Senin kemarin, Kapolri Jenderal BHD menyatakan, kelompok Medan tergabung dalam Al Qaeda Medan. Organisasi ini merupakan gabungan dari sejumlah faksi yakni JI, JAT, Darul Islam, dan lainnya. Sedangkan Kadiv Humas Polri Irjen Iskandar Hasan menduga biaya pelatihan militer di Sinabung berasal dari Ba’asyir. <www.detikNews.com>