Oleh : Hafizh

Dunia layar kaca, kian dijejali para selebriti remaja. Popularitas yang berhasil diraihnya, kian melambungkan nama mereka di jajaran artis pendatang baru. Sebut saja Marshanda, Agnes Monica, Dini Aminarti, Samuel Rizal, Nicholas Saputra, Shandy Aulia, Alyssa Soebandono, Roger Danuarta, Nicky Tirta, Claudia Cynthia Bella, Samuel Zylgwyn lainnya.

Saban hari, berita seputar seleb remaja emang nggak ada abisnya. Mulai dari liputan keseharian, kisah percintaan, hingga karirnya di dunia hiburan. Nggak heran dong kalo kita kian familier dengan wajah-wajah asing mereka yang sering menghias layar kaca. Sebagai bintang iklan, wara-wiri sebagai model, penyanyi, atau bintang sinetron.

Seperti Shandy Aulia. Dulunya kita nggak ngeh ama si ‘burket’ yang membintangi salah satu iklan deodorant ini. Tapi setelah kesuksesannya berakting di film layar lebar bersama Samuel Rizal dalam ‘Eiffel I’m in Love’ dan ‘Apa Artinya Cinta’, dia pun masuk dalam bursa seleb remaja beken tanah air. Begitu juga dengan anak ‘Juragan Jengkol’, Claudia Cynthia Bella. Kontroversi yang menerpa di awal karirnya saat membintangi film ‘Virgin’, tak menahannya untuk terus berkiprah di dunia entertainmen. Malah gara-gara kontroversi, jadi makin populer deh.

Kesuksesan para seleb remaja meniti karir di dunia hiburan seringkali dijadikan ikon sosok remaja berprestasi. Lantaran media massa maupun negara lebih menghargai dan ngasih perhatian lebih pada mereka dibanding temen-temen pelajar yang sukses menggondol emas di kejuaraan science internasional. Seolah remaja berprestasi berbanding lurus dengan selebriti remaja. Lantas, gimana nasib pendidikan mereka di tengah kesibukannya sebagai seleb?

Pilih karir apa sekolah?

Layaknya remaja, bintang-bintang muda seperti Nadia Vega, Sakutra ’Kipli’ Ginting, Sherina, Nadia Shafira, atau finalis Indonesian idol 2006, Ghea, tetep kudu sekolah. Ya, status mereka tetep tercatat sebagai pelajar di masing-masing sekolahnya. Dan tetep kudu ngikutin kegiatan belajar-mengajar dengan seragam sama seperti temen-temen sekolahnya. Padatnya jadwal syuting yang menyita waktu, otomatis memaksa mereka untuk ngadepin pilihan antara karir dan pendidikannya. Syukur-syukur dua-duanya bisa sejalan. Lha, kalo waktunya bentrok, gimana tuh nyiasatinnya? Ada nggak sih yang kudu dikalahkan?

Untuk urusan membagi waktu, Nadia Shafira emang patut dicontoh. “Kunci kesuksesan dalam belajar tidak luput dari kedisiplinan aku dalam belajar. Aku tidak mau meninggalkan pelajaran karena hanya syuting sinetron,” katanya. Dia mengaku selalu berusaha menyempatkan diri belajar saat rehat di lokasi syuting. “Bagi aku syuting tidak harus meninggalkan belajar. Belajar tetap nomor satu, setelah itu karier,” tuturnya. Nggak heran kalo pemain serial TV AADC ini termasuk dalam deretan lulusan terbaik di antara siswa SMA 70 Jakarta untuk tahun 2006 ini, dengan nilai 8,90 untuk semua mata pelajaran. (Suara Karya Online, 30/06/06). Ck…ck…ck…

Nadia Vega, pemain serial remaja Inikah Rasanya, ngaku sering kerepotan dengan dengan syuting sinetronnya yang kejar tayang. Dia kudu pandai membagi waktu. “Terkadang kami harus minta izin dari sekolah. Saya juga harus rajin mencatat dari teman untuk mengejar ketinggalan dalam pelajaran di sekolah. Untunglah semuanya bisa diatasi dengan ketekunan dalam belajar,” tutur dara Sunda kelahiran Pekanbaru, Riau ini.

Alyssa Soebandono, yang akrab dipanggil Icha, adakalanya juga keteteran dalam soal pelajaran. Itu sebabnya ia memanggil guru privat untuk menambah pelajaran ekstra. “Setiap shooting saya selalu bawa buku pelajaran. Kadang guru privatku ikut ke lokasi shooting. Kan kalau di lokasi shooting suka ada waktu jeda, nunggu scene yang lain. Nah waktu itu saya manfaatin buat belajar,” terang Icha.

Akting berlanjut, sekolah jalan terus. Itulah prinsip yang dijalankan Sakutra ‘Kipli’ Harahap Ginting. Caranya, siswa kelas VI SD ini berusaha membagi waktu sehingga sekolah dan karier dunia hiburannya tetap berjalan. Beruntung, teman main dan sutradara kerap memberinya kelonggaran. Saat penggarapan sinetron ‘Kiamat Sudah Dekat’ yang kejar tayang, misalnya, ia juga sering diberi kesempatan shooting Sabtu dan Ahad. “Biasanya, selesai sekolah baru shooting. Tidak boleh sekolah diabaikan.”

Tapi Ghea, finalis Indonesian Idol 2006, tak seberuntung Nadia Shafira untuk urusan pendidikannya. Karena memilih untuk masuk Indonesian Idol dan dikontrak oleh MNC, kegiatan Ghea lumayan padat. Akibatnya, karier menanjak tapi prestasi sekolah menurun. Padahal tahun ini, Ghea harus ujian kelulusan SMA. “Buat aku sekolah tetap yang utama. Target aku sekarang lulus SMA. Memang sih nilai pelajaranku banyak yang turun, tapi aku merasa ini adalah risiko. Sekarang buat persiapan ujian, Ghea banyak latihan soal, dan ikut pelajaran tambahan di sekolah dan di rumah,” ujar Mojang yang bersekolah di SMAN 20 Bandung ini. Karena kegiatannya banyak di Jakarta pada weekend, akibatnya, doi kudu bolos setiap hari Senin.

Sobat, jadwal kegiatan di dunia hiburan yang cukup padat, ternyata nggak bikin mayoritas para bintang muda ‘ngacangin’ pendidikannya. Teuteup, mereka utamakan pendidikan meski bolong-bolong absen sekolahnya, ngikut les privat, rajin nyalin catatan temen, atau sampe bawa guru lesnya ke tempat shooting. Gimana aja caranya, yang penting jangan sampe sekolah terbengkalai. Catet tuh!

Beprestasi di usia dini

Untuk urusan prestasi, tiap remaja pasti berlomba-lomba pengen unjuk gigi. Tapi bukan berarti saling pada nyengir alias memamerkan gigi lho. Yang pasti, pengen punya kemampuan yang bisa dibanggakan dan dikenal banyak orang. Salah satu prestasi yang paling banyak diminati oleh mayoritas remaja dan remaji saat ini adalah dengan menjadi selebriti.

Dalam sebuah rubrik ‘suara hati pelajar’ Pikiran Rakyat edisi 08/08/06 yang mengangkat tema ‘jadi selebriti’, terbukti semua koresponden pengen jadi seleb meski dengan catatan. Ada yang mengidolakan Peggy Melati Sukma, Agnes Monica, Tom Cruise, atau Iwan Fals. Yang pasti, kehidupan glamour dan mewah, materi yang berlimpah, serta dipuja banyak orang cukup memancing remaja untuk terobsesi menjadi selebriti.

Apalagi saat ini, pintu menuju gerbang kehidupan seleb terbuka luas. Maraknya program pencarian bakat yang membidik pasar remaja, menjadi jalan pintas meraih popularitas. Nggak heran kalo peserta remaja yang ikut audisi bejibun banget. Ada yang pengen jadi penyanyi, pelawak, pedangdut, foto model, penari, da’i, atau pencipta lagu. Pokoknya, semuanya pengen berprestasi dan menjadi idola remaja.

Tapi sobat, sebagai seorang Muslim, tentu kita nggak bisa sembarangan mengukir prestasi. Lantaran setiap amal perbuatan kita udah ada aturan main dan statusnya. Mulai dari yang mubah, makruh, sunnah, haram, dan wajib. Itu berarti, udah seharusnya kita belajar memilih prioritas amal sebelum mengukir prestasi. Caranya, dengan menyandarkan setiap perbuatan kita pada aturan Islam. Kalo menurut Islam boleh, ya silakan dijalani, tapi kalo menurut Islam nggak boleh, apa boleh buat—meski menyenangkan tapi kudu dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali.

Kita kudu nyadar, dunia selebriti itu identik dengan gaya hidup materialis. Satu sama lain saling berlomba menjaga popularitas biar tetep laku di pasaran. Nggak heran kalo lika-liku kehidupan para seleb yang terekam di media massa dipenuhi sensasi dan kontroversi. Memang betul bahwa nggak semua seleb tuh kacau, tapi paling nggak dunia itu memang memberikan peluang alias kesempatan yang lebih besar untuk nyerempet-nyerempet atau minimal coba-coba kepada jenis kehidupan yang memungkinkan berbuat maksiat. Sekecil apa pun. Lantaran pola hidupnya yang sekuler abiz!

Percaya deh, masih banyak prestasi halal yang bisa kita raih dan bahkan bisa membuat kita lebih berharga di sisi Allah. Kalo kita ngotot banget cinta dunia, inget deh kehidupan kita juga nggak lama kok di dunia ini. Coba pikir, kalo kontrak kita di dunia udah abis en nggak bisa diperpanjang, amal apa yang bakalan kita bawa ke hadapan Sang Khalik: baik atau buruk?

Coba baca en renungi pesan yang ada di lagu ‘Bila Waktu T’lah Berakhir’, dari Opick yang syairnya kayak gini: “Bagaimana kau merasa bangga akan dunia yang sementara/Bagaimanakah bila semua hilang dan pergi meninggalkan dirimu…/Bagaimanakah bila saatnya waktu terhenti tak kau sadari/Masihkah ada jalan bagimu untuk kembali mengulang ke masa lalu…/Dunia dipenuhi dengan hiasan. Semua dan segala yang ada akan kembali padaNya…/Bila waktu tlah memanggil, teman sejati hanyalah amal/Bila waktu tlah terhenti, teman sejati tinggallah sepi…

Teladan untuk kebaikan

Sobat, kita nggak bermaksud nakut-nakutin kamu agar jangan berprestasi en dikenal banyak orang. Eits, jangan salah. Setiap kita boleh kok berprestasi sesuai dengan potensi yang dimiiki. Hanya saja catatan dari kita, raihlah prestasi lewat jalan yang baik dan diridhoi Allah. Nggak tergoda via jalan pintas dengan ikut audisi-audisi yang banyak ditawarkan media massa. En satu lagi, kalo kelak kita berprestasi dan populer, ingatlah satu hal bahwa kita bakal jadi panutan orang lain. Sebeb, jadi idola seharusnya nggak dipinta alias bakalan datang sendiri. Banyak orang yang bisa aja menjadikan kita idola. Terutama yang respek dengan kemampuan kita.

Untuk itu, kalo pun kemudian jadi teladan, tentunya harus mengajarkan kebaikan. Jangan sampe sekali-kali ngajarin keburukkan. Ingat lho, dosanya bisa MLM alias bisa berlipat-lipat. Kita nyontohin kesalahan, orang lain ikut dengan apa yang kita perbuat, maka dosa kita akan ditambah dengan dosa dari orang-orang yang ngikutin keburukan kita. Kebayang kan kalo perilaku buruk selebriti seperti nge-drugs, gaul bebas, konsumtif, atau mengumbar aurat, ditiru banyak fansnya? Ih, syerem abiz!

Rasul saw. bersabda: “Siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang baik kemudian beramal dengannya, maka ia mendapat balasannya (pahala) dan balasan serupa dari orang yang beramal dengannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang buruk kemudian ia berbuat dengannya, maka ia mendapat balasannya dan balasan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi balasan mereka sedikitpun,” (HR Ibnu Majah)

Nah ternyata, jadi orang ‘besar’, risikonya juga besar. Makanya, mending jadi ordinary people alias orang biasa aja daripada kudu berkubang dalam kehidupan sekuler materialis khas selebriti. Toh untuk memberikan tauladan yang baik, nggak harus jadi populer. Dan untuk jadi populer dan berprestasi, nggak harus jadi selebriti di dunia entertainmen. Sebab, seharusnya definisi seleb pun secara umum bukan cuma buat mereka yang berkiprah di dunia hiburan, tapi semua orang yang terkenal di berbagai bidang bisa disebut seleb. Aa Gym adalah seleb. Helvy Tiana Rosa, sebagai novelis juga seleb. Pak SBY juga termasuk seleb, karena mereka terkenal di mana-mana.

So, buat kita, berprestasilah di dunia yang baik-baik. Terus, yang penting, kita berperilaku, berkata, berpikir, dan berdakwah ngikutin apa yang dicontohkan Rasul. Thats it! Perkara ada atau tidaknya orang lain yang meniru kita, biarlah itu jadi bonus kita saat itung-itungan pahala di akhirat nanti. Yuk, sebanyak mungkin kita berprestasi dan raih ridho Ilahi! Soalnya, kita nggak abadi di dunia ini. [Hafidz: hafidz341@telkom.net]